» » » » » » Pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB 1960 Bikin Presiden Lain Mendadak Jadi Pendengar yang Baik


Merasa tak dianggap lantaran masukan-masukannya tak diindahkan, Bung Karno menelanjangi PBB di Sidang Umum PBB pada 30 September 1960 di New York, Amerika Serikat. Pidatonya memukau, membuat kepala negara lain mendadak jadi pendengar yang baik.
Dalam pandangannya, PBB sudah tak netral.Kepentingan bangsa-bangsa baru selalu dikalahkan oleh negara besar. Bung Karno memberi contoh, PBB tak menghukum Amerika Serikat, Inggris, atau negara besar lain yang mencampuri bahkan mengganggu urusan dalam negeri negara lain.
“Dewan Keamanan yang seharusnya mencegah peperangan justru sering menghasut peperangan,” kritik Presiden Bung Karno dalam Sidang Umum PBB 1960.
Dalam Sidang Umum PBB 1960 Bung Karno mengucapkan pidato “To Build The World a New”. Ada lima kritik yang dihadirkan Bung Karno kepada PBB. Pertama, Sekretariat Jenderal PBB berada di tempat yang tak netral (Amerika Serikat). “Dia harus dipindahkan ke Jenewa, Asia, Afrika atau tempat-tempat lain yang berada di luar konflik kepentingan.”
Kedua, PBB lahir dalam keadaan masyarakat dunia yang baru terbebas dari ketakutan perang. Akibatnya, menurut Bung Karno, banyak piagam PBB mencerminkan konstelasi politik dan kekuatan saat ia lahir sehingga tak mengakomodasi realitas global yang berubah begitu cepat.
Ketiga, organisasi dan keanggotaan Dewan Keamanan mencerminkan peta ekonomi, militer, dan kekuatan dunia tahun 1945. “Negara-negara besarlah yang menentukan perang dan damai.” Bung Karno menyarankan, “Karena itu keanggotaannya harus dibuka untuk negara berkembang.”
Keempat, sekretariat PBB perlu ditinjau ulang. Kelima, salah satu kesalahan badan internasional ini adalah menolak suatu bangsa untuk bergabung. Keenam, harus ada pembagian lebih adil di antara personil PBB dalam lembaga-lembaganya.
Orang-orang yang hadir dalam sidang itu terkesima. Tepuk tangan riuh mengiringi kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Bung Karno.
Mangil Martowidjojo, komandan Datasemen Kawal Pribadi (DKP) Resimen Tjakrabirawa, ingat betul suasana saat itu. Sejak Bung Karno memasuki ruangan, kenangnya dalam Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967, para hadirin bertepuk tangan.
“Di PBB yang terdiri dari bangsa-bangsa di dunia ini para pemimpinnya berkumpul di New York, dibikin oleh Bung Karno menjadi pendengar yang baik, yang tekun, yang sungguh-sungguh, seperti kalau Bung karno berpidato di depan rakyat atau para pemimpin Indonesia di tanah air tercinta.”
Namun, PBB yang dimotori negara-negara maju tak menghiraukan teriakan Bung Karno. Mereka seakan malah menantang. Perestuan penyatuan Kalimantan Utara dengan Malaya menjadi salah satu tindakan yang membuat Bung Karno kian muak terhadap PBB.
Bung Karno sendiri kian gencar mengusung gagasan pembangunan dunia baru. Bersama negara-negara seperti RRT, Vietnam, dan Korea Utara, Indonesia membidani Conference of New Emergencing Force (Conefo).
Puncaknya, Indonesia keluar dari keanggotaan PBB pada 20 Januari 1965. “Bila keadaan sudah berubah, pasti Indonesia akan kembali,” ujar Bung Karno.
(Sumber : historia.co.id)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply